Bahagian 1
Section 1
Prakata & Maklumat Asas
Introduction & Basic Information
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١
"Wahai orang yang berselimut!" — Al-Muddaththir 74:1
"O you who covers himself [with a garment]," — Al-Muddaththir 74:1
قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢
"Bangunlah serta berilah peringatan dan amaran (kepada umat manusia)." — Al-Muddaththir 74:2
"Arise and warn" — Al-Muddaththir 74:2
وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣
"Dan Tuhanmu, maka ucaplah dan ingatlah kebesaran-Nya!" — Al-Muddaththir 74:3
"And your Lord glorify" — Al-Muddaththir 74:3
eBook ini merupakan sambungan kepada Siri eBook Al-Quran: Sains & Kesihatan, yang membawa pembaca menyusuri Surah Al-Muddaththir — surah ke-74 dalam susunan mashaf, namun antara wahyu paling awal diturunkan kepada Rasulullah ﷺ. Surah ini membawa pengajaran besar tentang detik permulaan tugas kenabian, perintah pertama berdakwah, serta gambaran neraka Saqar sebagai peringatan kepada golongan yang mendustakan kebenaran.
This eBook continues the Quran eBook Series: Science & Health, exploring Surah Al-Muddaththir — the 74th surah in the mushaf order, yet among the very earliest revelations to the Prophet ﷺ. It carries great lessons about the first moments of prophethood, the first command to call people to Allah, and the depiction of Saqar as a warning to those who deny the truth.
Penulisan ini menggabungkan tafsir, Hadith sahih yang disahkan, serta perbincangan I'jaz Ilmi (mukjizat saintifik) secara objektif dan berhemah, bertujuan mendekatkan pembaca dengan kefahaman yang lebih mendalam tentang ayat-ayat suci Al-Quran dan kaitannya dengan penemuan sains moden.
The writing combines tafsir, verified authentic hadith, and an objective, measured discussion of I'jaz 'Ilmi, aiming to bring readers closer to a deeper understanding of the verses and their relation to modern findings.
| Nama Surah (Arab) | سُورَةُ الْمُدَّثِّرِ |
| Maksud Nama | Orang yang Berselimut |
| Nombor Surah | 74 |
| Bilangan Ayat | 56 ayat |
| Juzuk | 29 |
| Golongan | Makkiyah |
| Susunan Wahyu | Ke-2 (selepas 5 ayat pertama Al-'Alaq) |
| Surah Name (Arabic) | سُورَةُ الْمُدَّثِّرِ |
| Meaning | The Cloaked One |
| Surah Number | 74 |
| Total Verses | 56 verses |
| Juz | 29 |
| Type | Makkan |
| Order of Revelation | 2nd (after the first 5 verses of Al-'Alaq) |
Bahagian 3
Section 3
Tafsir Tematik
Thematic Commentary
Surah Al-Muddaththir dapat difahami melalui lima kelompok tematik utama yang membawa pembaca daripada detik permulaan wahyu sehingga peringatan tentang Hari Akhirat. Berikut huraian setiap kelompok.
Surah Al-Muddaththir can be understood through five thematic groups, leading the reader from the first moments of revelation to the warning of the Hereafter.
3.1 Kelompok 1: Perintah Pertama Berdakwah (Ayat 1–7)
3.1 Group 1: The First Command to Call to Allah (Verses 1–7)
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١
"Wahai orang yang berselimut!" — Al-Muddaththir 74:1
"O you who covers himself [with a garment]," — Al-Muddaththir 74:1
قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢
"Bangunlah serta berilah peringatan dan amaran (kepada umat manusia)." — Al-Muddaththir 74:2
"Arise and warn" — Al-Muddaththir 74:2
وَرَبَّكَ فَكَبِّرۡ ٣
"Dan Tuhanmu, maka ucaplah dan ingatlah kebesaran-Nya!" — Al-Muddaththir 74:3
"And your Lord glorify" — Al-Muddaththir 74:3
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤
"Dan pakaianmu, maka hendaklah engkau bersihkan." — Al-Muddaththir 74:4
"And your clothing purify" — Al-Muddaththir 74:4
Kelompok ayat ini merupakan arahan pertama Allah kepada Rasulullah ﷺ selepas baginda kembali dalam keadaan gementar daripada peristiwa pertemuan dengan Malaikat Jibril a.s. Enam perintah penting disusun secara berurutan: bangun dan beri peringatan (qum fa-anzir), agungkan Tuhan (wa rabbaka fakabbir), bersihkan pakaian (wa thiyabaka fatahhir), tinggalkan penyembahan berhala (war-rujza fahjur), jangan memberi dengan mengharap balasan lebih (wa la tamnun tastakthir), dan bersabar kerana Allah (wa lirabbika fasbir). Susunan ini membentuk asas keperibadian seorang pendakwah – bermula daripada kesucian diri dan akidah, sehingga kepada keikhlasan dan kesabaran dalam menyampaikan dakwah.
These verses are Allah's first instructions to the Prophet ﷺ after he returned trembling from meeting the angel Jibril. Six commands follow in sequence: arise and warn, magnify your Lord, purify your clothing, shun idolatry, do not give in expectation of more, and be patient for your Lord — forming the foundation of a caller's character, from purity of self and creed to sincerity and patience.
3.2 Kelompok 2: Peringatan Tentang Hari Kiamat (Ayat 8–10)
3.2 Group 2: Warning of the Day of Judgement (Verses 8–10)
فَإِذَا نُقِرَ فِي ٱلنَّاقُورِ ٨
"Kerana apabila telah ditiup sangkakala," — Al-Muddaththir 74:8
"And when the trumpet is blown," — Al-Muddaththir 74:8
فَذَٰلِكَ يَوۡمَئِذٖ يَوۡمٌ عَسِيرٌ ٩
"Maka saat yang demikian adalah saat (berlakunya) hari yang sukar -" — Al-Muddaththir 74:9
"That Day will be a difficult day" — Al-Muddaththir 74:9
عَلَى ٱلۡكَٰفِرِينَ غَيۡرُ يَسِيرٖ ١٠
"Kepada orang-orang kafir, lagi tidak mudah (mengelak azabnya)." — Al-Muddaththir 74:10
"For the disbelievers — not easy." — Al-Muddaththir 74:10
Selepas perintah berdakwah, Allah memperingatkan tentang detik apabila sangkakala (an-naqur) ditiup. Hari itu digambarkan sebagai ‘hari yang amat sukar’ (yawmun ‘asir) khususnya bagi orang-orang kafir yang mendustakan kebenaran. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai motivasi utama di sebalik kewajipan menyampaikan peringatan kepada manusia – kerana kepentingan hari pembalasan yang pasti berlaku itulah yang menjadikan dakwah satu tanggungjawab mendesak.
After the command to call to Allah comes the warning of the moment the trumpet (an-naqur) is blown — a "difficult day" (yawmun 'asir), especially for the disbelievers. These verses are the key motivation for da'wah: the certainty of the Day of Recompense makes conveying the warning an urgent duty.
3.3 Kelompok 3: Kisah Al-Walid bin Al-Mughirah (Ayat 11–26)
3.3 Group 3: The Story of Al-Walid ibn al-Mughirah (Verses 11–26)
إِنَّهُۥ فَكَّرَ وَقَدَّرَ ١٨
"Kerana sesungguhnya ia telah memikirkan dan mereka-reka berbagai tuduhan terhadap Al-Quran -" — Al-Muddaththir 74:18
"Indeed, he thought and deliberated." — Al-Muddaththir 74:18
فَقُتِلَ كَيۡفَ قَدَّرَ ١٩
"Maka binasalah dia hendaknya! Bagaimanakah dia berani mereka-reka (yang demikian)?" — Al-Muddaththir 74:19
"So may he be destroyed [for] how he deliberated." — Al-Muddaththir 74:19
فَقَالَ إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا سِحۡرٞ يُؤۡثَرُ ٢٤
"Serta ia berkata: "(Al-Quran) ini tidak lain hanyalah sihir yang dituntut serta dipelajari (dari ahli-ahlinya);" — Al-Muddaththir 74:24
"And said, "This is not but magic imitated [from others]." — Al-Muddaththir 74:24
إِنۡ هَٰذَآ إِلَّا قَوۡلُ ٱلۡبَشَرِ ٢٥
"Ini tidak lain hanyalah kata-kata (rekaan) manusia!"" — Al-Muddaththir 74:25
"This is not but the word of a human being."" — Al-Muddaththir 74:25
Kelompok ayat ini menceritakan sikap seorang tokoh Quraisy (dikenali dalam riwayat tafsir sebagai Al-Walid bin Al-Mughirah) yang telah dikurniakan kekayaan, anak-anak dan kedudukan yang luas, namun tetap menolak kebenaran Al-Quran dan menuduhnya sebagai ‘sihir yang diwarisi’ (sihrun yu’thar). Allah menggambarkan proses berfikirnya yang penuh angkuh sebelum akhirnya memilih untuk mendustakan wahyu walaupun mengetahui kebenarannya, lalu dijanjikan baginya balasan neraka Saqar. Kisah ini menjadi pengajaran tentang bahaya kesombongan dan penolakan kebenaran walaupun bukti telah jelas terpapar.
These verses describe a Quraysh leader (identified in the tafsir narrations as al-Walid ibn al-Mughirah) who was granted wealth, sons and status, yet rejected the Qur'an, calling it "inherited magic". Allah depicts his arrogant deliberation before he chose to deny revelation despite knowing its truth — a lesson on the danger of pride.
3.4 Kelompok 4: Gambaran Neraka Saqar dan Penjaganya (Ayat 27–48)
3.4 Group 4: Saqar and Its Keepers (Verses 27–48)
وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ٢٧
"Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui kedahsyatan neraka Saqar itu?" — Al-Muddaththir 74:27
"And what can make you know what is Saqar?" — Al-Muddaththir 74:27
لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ ٢٨
"Ia membakar mangsanya dengan tidak meninggalkan sisa, dan tidak membiarkannya (binasa terus)," — Al-Muddaththir 74:28
"It lets nothing remain and leaves nothing [unburned]," — Al-Muddaththir 74:28
عَلَيۡهَا تِسۡعَةَ عَشَرَ ٣٠
"Pengawal dan penjaganya adalah sembilan belas (malaikat)." — Al-Muddaththir 74:30
"Over it are nineteen [angels]." — Al-Muddaththir 74:30
مَا سَلَكَكُمۡ فِي سَقَرَ ٤٢
"(Setelah melihat orang-orang yang bersalah itu, mereka berkata): "Apakah yang menyebabkan kamu masuk ke dalam (neraka) Saqar?"" — Al-Muddaththir 74:42
"[And asking them], "What put you into Saqar?"" — Al-Muddaththir 74:42
قَالُواْ لَمۡ نَكُ مِنَ ٱلۡمُصَلِّينَ ٤٣
"Orang-orang yang bersalah itu menjawab: "Kami tidak termasuk dalam kumpulan orang-orang yang mengerjakan sembahyang;" — Al-Muddaththir 74:43
"They will say, "We were not of those who prayed," — Al-Muddaththir 74:43
وَلَمۡ نَكُ نُطۡعِمُ ٱلۡمِسۡكِينَ ٤٤
"Dan kami tidak pernah memberi makan orang-orang miskin;" — Al-Muddaththir 74:44
"Nor did we used to feed the poor." — Al-Muddaththir 74:44
Kelompok ayat terpanjang dalam surah ini menghuraikan secara terperinci sifat neraka Saqar - membakar tanpa meninggalkan sisa, dijaga oleh sembilan belas (malaikat penjaga), dan menjadi ujian keimanan bagi Ahli Kitab serta orang yang beriman. Allah turut menggambarkan dialog antara penghuni syurga dengan golongan yang berdosa, di mana mereka mengakui empat sebab kebinasaan mereka: tidak mengerjakan solat, tidak memberi makan orang miskin, leka dalam perbualan sia-sia bersama orang yang melalaikan, serta mendustakan Hari Pembalasan sehingga ajal menjemput. Pengakuan ini menjadi rumusan ringkas tentang ciri-ciri yang membawa kepada azab.
The longest group describes Saqar in detail — burning and leaving nothing, guarded by nineteen angels, a test of faith. The people of Paradise ask the criminals what brought them to Saqar, and they confess four causes: not praying, not feeding the poor, indulging in vain talk, and denying the Day of Recompense until death came.
3.5 Kelompok 5: Sebab Keingkaran dan Penutup Surah (Ayat 49–56)
3.5 Group 5: The Causes of Denial and the Close (Verses 49–56)
فَمَا لَهُمۡ عَنِ ٱلتَّذۡكِرَةِ مُعۡرِضِينَ ٤٩
"(Kalau demikianlah halnya orang-orang yang bersalah), maka mengapa mereka berpaling lari dari peringatan (Al-Quran)?" — Al-Muddaththir 74:49
"Then what is [the matter] with them that they are, from the reminder, turning away" — Al-Muddaththir 74:49
كَأَنَّهُمۡ حُمُرٞ مُّسۡتَنفِرَةٞ ٥٠
"Seolah-olah mereka sekawan keldai liar yang lari," — Al-Muddaththir 74:50
"As if they were alarmed donkeys" — Al-Muddaththir 74:50
فَرَّتۡ مِن قَسۡوَرَةِۭ ٥١
"Melarikan diri (ketakutan) dari singa!" — Al-Muddaththir 74:51
"Fleeing from a lion?" — Al-Muddaththir 74:51
كَلَّآ إِنَّهُۥ تَذۡكِرَةٞ ٥٤
"Ketahuilah! Sesungguhnya Al-Quran itu adalah satu peringatan (yang sangat besar pengajarannya);" — Al-Muddaththir 74:54
"No! Indeed, it [the Qur'an] is a reminder." — Al-Muddaththir 74:54
فَمَن شَآءَ ذَكَرَهُۥ ٥٥
"Oleh itu sesiapa yang mahu (beringat) dapatlah ia mengambil peringatan daripadanya." — Al-Muddaththir 74:55
"Then whoever wills will remember it." — Al-Muddaththir 74:55
وَمَا يَذۡكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُۚ هُوَ أَهۡلُ ٱلتَّقۡوَىٰ وَأَهۡلُ ٱلۡمَغۡفِرَةِ ٥٦
"Dan (dalam pada itu) tiadalah mereka dapat beringat melainkan jika dikehendaki Allah; Dia lah Tuhan yang berhak dipatuhi perintah-Nya, dan Dia lah jua yang berhak memberi keampunan (kepada orang-orang yang beriman dan taat)." — Al-Muddaththir 74:56
"And they will not remember except that Allah wills. He is worthy of fear and adequate for [granting] forgiveness." — Al-Muddaththir 74:56
Allah mempersoalkan sikap orang-orang yang berpaling daripada peringatan seolah-olah mereka adalah 'keldai liar yang lari daripada singa', walaupun masing-masing daripada mereka sebenarnya mahu diturunkan kepadanya kitab suci secara peribadi. Surah ini ditutup dengan penegasan bahawa Al-Quran adalah peringatan untuk sesiapa yang mahu mengambil iktibar, namun manusia hanya akan beringat dengan izin Allah, kerana Dia lah yang berhak ditakuti (ahlut-taqwa) dan yang berhak memberi keampunan (ahlul-maghfirah) - satu penutup yang menggabungkan ketegasan dan harapan.
Allah questions those who flee from the reminder "like frightened wild donkeys fleeing a lion", though each wants a scripture sent to him personally. The surah closes by affirming that the Qur'an is a reminder for whoever wills — yet people remember only by Allah's will, for He alone is worthy of fear and of granting forgiveness.
Bahagian 4
Section 4
I'jaz Ilmi — Sains & Kesihatan
Quran & Science
Bahagian ini menghuraikan empat topik I'jaz Ilmi (mukjizat saintifik) yang berkaitan dengan ayat-ayat dalam Surah Al-Muddaththir. Perbincangan ini disediakan secara objektif berlandaskan tafsir klasik para ulama, dengan I'jaz Ilmi digunakan semata-mata sebagai alat dakwah tambahan dan bukan kaedah tafsir utama.
This section discusses four I'jaz 'Ilmi topics linked to verses of Surah Al-Muddaththir, grounded in classical tafsir, with I'jaz 'Ilmi used only as an additional tool of da'wah, not as the primary method of tafsir.
4.1 Sentuhan Tekanan Mendalam: Sains di Sebalik "Selimutkanlah Aku"
4.1 Deep Pressure Touch: The Science Behind "Cover Me"
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلۡمُدَّثِّرُ ١
"Wahai orang yang berselimut!" — Al-Muddaththir 74:1
"O you who covers himself [with a garment]," — Al-Muddaththir 74:1
قُمۡ فَأَنذِرۡ ٢
"Bangunlah serta berilah peringatan dan amaran (kepada umat manusia)." — Al-Muddaththir 74:2
"Arise and warn" — Al-Muddaththir 74:2
📖 Tafsir Klasik: Para mufassirin seperti Ibn Kathir dan At-Tabari menjelaskan bahawa selepas peristiwa pertemuan dengan Malaikat Jibril a.s. di antara langit dan bumi, Rasulullah ﷺ pulang dalam keadaan gementar dan ketakutan, lalu meminta diselimutkan. Tindakan berselimut ini bukan sekadar mencari kehangatan fizikal, tetapi satu tindak balas semula jadi tubuh terhadap pengalaman yang amat menggerunkan.
📖 Classical Tafsir: Commentators such as Ibn Kathir and at-Tabari explain that after meeting Jibril between heaven and earth, the Prophet ﷺ returned trembling and asked to be covered — a natural bodily response to an overwhelming experience.
🔬 Penemuan Sains: Dalam bidang sains sensori dan terapi pekerjaan (occupational therapy) moden, terdapat fenomena yang dikenali sebagai Deep Pressure Touch Stimulation (DPTS) atau rangsangan sentuhan tekanan mendalam. Kajian klinikal (antaranya Ekholm dan rakan-rakan, 2020, dalam Journal of Clinical Sleep Medicine) mendapati bahawa selimut bertimbang (weighted blanket) — yang memberi tekanan lembut dan sekata ke atas tubuh — membantu mengurangkan insomnia dan kegelisahan. Mekanismenya dipercayai melalui penenangan sistem saraf autonomi yang teruja akibat tindak balas "lawan-atau-lari" (fight-or-flight response), walaupun penyelidikan dalam bidang ini masih berkembang.
🔬 Science: Occupational therapy describes "Deep Pressure Touch Stimulation". Clinical studies (e.g. Ekholm et al., 2020, Journal of Clinical Sleep Medicine) found that weighted blankets — giving gentle, even pressure — help reduce insomnia and anxiety, likely by calming the autonomic "fight-or-flight" response, though research in this area is still developing.
Tindakan baginda ﷺ meminta diselimutkan selepas pengalaman yang menggerunkan itu selari dengan apa yang kini difahami oleh sains moden - bahawa tekanan lembut menyeluruh ke atas badan adalah mekanisme menenangkan sistem saraf yang berkesan. Ini bukanlah tindakan kebetulan, sebaliknya menunjukkan keserasian antara fitrah manusia yang digambarkan dalam peristiwa wahyu ini dengan prinsip fisiologi tekanan-tenang yang kini difahami sains.
The Prophet's ﷺ request to be covered after that overwhelming experience is in harmony with what modern science now understands — that gentle, even pressure on the body calms the nervous system — showing the harmony between human nature (fitrah) and physiology.
4.2 Kebersihan Pakaian dan Pencegahan Penyakit
4.2 Clean Clothing and Disease Prevention
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرۡ ٤
"Dan pakaianmu, maka hendaklah engkau bersihkan." — Al-Muddaththir 74:4
"And your clothing purify" — Al-Muddaththir 74:4
📖 Tafsir Klasik: Sebahagian ulama tafsir seperti Al-Qurtubi menghuraikan ayat ini secara zahir bermaksud membersihkan pakaian daripada najis dan kotoran, manakala sebahagian yang lain memberi makna kiasan iaitu membersihkan diri daripada perbuatan dosa. Kedua-dua makna ini tidak bertentangan, malah saling melengkapi - kebersihan zahir mencerminkan kebersihan batin.
📖 Classical Tafsir: Some commentators such as al-Qurtubi explain this literally — cleaning clothes from impurity — while others take it figuratively as purifying oneself from sin. Both meanings complement each other.
🔬 Penemuan Sains: Sains kebersihan dan mikrobiologi moden mengesahkan bahawa pakaian yang tidak dibersihkan menjadi 'fomite' - permukaan yang menyimpan dan menyebarkan mikroorganisma seperti bakteria, kulat dan virus. Kajian dalam bidang kesihatan persekitaran mendapati pakaian kotor, lembap atau berpeluh boleh menjadi medium pembiakan patogen yang menyebabkan jangkitan kulit, alahan pernafasan dan penularan penyakit berjangkit dalam kalangan ahli keluarga.
🔬 Science: Hygiene science confirms that unwashed clothing can act as a "fomite" — a surface that harbours and spreads bacteria, fungi and viruses — contributing to skin infections and the spread of disease within households.
4.3 Fisiologi Haba Melampau: Memahami Gambaran Saqar
4.3 Extreme Heat Physiology: Understanding Saqar
سَأُصۡلِيهِ سَقَرَ ٢٦
"(Disebabkan kekufurannya itu) Aku akan masukkan dia ke dalam neraka Saqar." — Al-Muddaththir 74:26
"I will drive him into Saqar." — Al-Muddaththir 74:26
وَمَآ أَدۡرَىٰكَ مَا سَقَرُ ٢٧
"Dan apa jalannya engkau dapat mengetahui kedahsyatan neraka Saqar itu?" — Al-Muddaththir 74:27
"And what can make you know what is Saqar?" — Al-Muddaththir 74:27
لَا تُبۡقِي وَلَا تَذَرُ ٢٨
"Ia membakar mangsanya dengan tidak meninggalkan sisa, dan tidak membiarkannya (binasa terus)," — Al-Muddaththir 74:28
"It lets nothing remain and leaves nothing [unburned]," — Al-Muddaththir 74:28
📖 Tafsir Klasik: Ibn Kathir menjelaskan bahawa Saqar adalah salah satu nama bagi neraka Jahannam, yang sifatnya membakar segala-galanya tanpa meninggalkan sisa, sebagaimana digambarkan dalam ayat 28 'tidak meninggalkan dan tidak membiarkan' - menunjukkan keazaban yang berterusan dan menyeluruh.
📖 Classical Tafsir: Ibn Kathir explains that Saqar is one of the names of Hell, burning everything without leaving any remnant — a punishment that is continuous and all-encompassing.
🔬 Penemuan Sains: Fisiologi perubatan moden mengenai tekanan haba melampau (extreme heat stress) menunjukkan bahawa apabila suhu persekitaran melebihi had toleransi tubuh, berlaku kegagalan sistem termoregulasi - protein dalam sel mula terdenatur, organ dalaman mengalami kerosakan progresif, dan tanpa rawatan segera membawa kepada kegagalan organ secara menyeluruh (multi-organ failure). Kajian dalam bidang perubatan kecemasan turut mengaitkan paras haba yang amat tinggi dengan kerosakan tisu yang tidak boleh dipulihkan.
🔬 Science: Medical physiology shows that when heat exceeds the body's tolerance, thermoregulation fails, cell proteins denature and organs are progressively damaged, leading to multi-organ failure. This gives context to the warning — not a literal account of Saqar, whose reality is known only to Allah.
4.4 Kronobiologi: Sumpah dengan Bulan, Malam dan Subuh
4.4 Chronobiology: The Oath by the Moon, Night and Dawn
كَلَّا وَٱلۡقَمَرِ ٣٢
"Sebenarnya! Demi bulan," — Al-Muddaththir 74:32
"No! By the moon" — Al-Muddaththir 74:32
وَٱلَّيۡلِ إِذۡ أَدۡبَرَ ٣٣
"Dan malam apabila ia balik melenyapkan diri," — Al-Muddaththir 74:33
"And [by] the night when it departs" — Al-Muddaththir 74:33
وَٱلصُّبۡحِ إِذَآ أَسۡفَرَ ٣٤
"Dan waktu subuh apabila ia terang-benderang," — Al-Muddaththir 74:34
"And [by] the morning when it brightens," — Al-Muddaththir 74:34
📖 Tafsir Klasik: Para mufassirin menjelaskan bahawa Allah bersumpah dengan ciptaan-Nya seperti bulan, malam dan waktu subuh untuk menegaskan kebenaran janji-Nya tentang azab neraka Saqar bagi penentang dakwah. Sumpah dengan tanda-tanda waktu ini turut mengisyaratkan kebesaran kekuasaan Allah dalam mengatur kitaran alam.
📖 Classical Tafsir: Allah swears by His creation — the moon, the night and the dawn — to affirm the truth of His promise, also indicating His power in ordering the cycles of nature.
🔬 Penemuan Sains: Bidang kronobiologi moden mengkaji bagaimana kitaran cahaya semula jadi - peralihan dari gelap malam kepada cerah subuh - mengawal jam biologi (circadian rhythm) manusia melalui regulasi hormon melatonin dan kortisol. Pendedahan kepada cahaya subuh mencetuskan penurunan melatonin dan peningkatan kewaspadaan, manakala fasa bulan turut dikaji mempengaruhi corak tidur dan tingkah laku biologi sesetengah hidupan melalui kajian-kajian kronobiologi dan oseanografi.
🔬 Science: Chronobiology studies how natural light cycles regulate the human body clock through melatonin and cortisol. Dawn light suppresses melatonin and raises alertness. The influence of the lunar cycle on humans is still being studied.
Bahagian 5
Section 5
Hadis Berkaitan
Related Hadith
Lima Hadith sahih berikut dipilih kerana kaitan langsung dengan tema dan asbab al-nuzul Surah Al-Muddaththir, lengkap dengan sanad dan rujukan untuk semakan lanjut.
The following five authentic hadith were chosen for their direct connection with the themes and background of Surah Al-Muddaththir, with their chains and references.
☾ Hadis 1 — Permulaan Wahyu & Perintah Berdakwah
☾ Hadith 1 — The Beginning of Revelation & the Command to Call
قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الأَنْصَارِيَّ، قَالَ ـ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْىِ، فَقَالَ ـ فِي حَدِيثِهِ " بَيْنَا أَنَا أَمْشِي، إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا، مِنَ السَّمَاءِ، فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَرُعِبْتُ مِنْهُ، فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي. فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ * قُمْ فَأَنْذِرْ} إِلَى قَوْلِهِ {وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} فَحَمِيَ الْوَحْىُ وَتَتَابَعَ ". تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ. وَتَابَعَهُ هِلاَلُ بْنُ رَدَّادٍ عَنِ الزُّهْرِيِّ. وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ " بَوَادِرُهُ ".
Ibnu Syihab (az-Zuhri) berkata: Abu Salamah bin ‘Abd al-Rahman mengkhabarkan kepadaku bahawa Jabir bin ‘Abdullah al-Ansari رضي الله عنهما menceritakan tentang tempoh terhentinya wahyu (fatratul-wahy). Dalam Hadithnya beliau berkata bahawa Nabi ﷺ bersabda:
“Ketika aku sedang berjalan, tiba-tiba aku mendengar satu suara dari langit. Lalu aku mengangkat pandanganku, maka aku melihat malaikat yang datang kepadaku di Gua Hira’ sedang duduk di atas sebuah kerusi antara langit dan bumi. Aku merasa sangat takut kepadanya, lalu aku pulang dan berkata: ‘Selimutkan aku! Selimutkan aku!’ Maka Allah Ta‘ala menurunkan ayat:
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah lalu berilah peringatan!”
“Dan tinggalkanlah segala perbuatan dosa.”
Selepas itu wahyu turun dengan deras dan berterusan.”
Jabir ibn 'Abdullah al-Ansari, speaking of the pause in revelation, reported that the Prophet ﷺ said: "While I was walking I heard a voice from the sky. I raised my eyes and saw the angel who had come to me at Hira', sitting on a chair between heaven and earth. I was terrified and returned home saying, 'Cover me! Cover me!' Then Allah revealed: 'O you who covers himself, arise and warn…' up to 'and uncleanliness avoid'. After that revelation came abundantly and continuously."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (4) — Kitab Bad' al-Wahy
Sanad: Yahya bin Bukair → Al-Laith → 'Uqail → Ibn Syihab (Az-Zuhri) → Abu Salamah bin 'Abd al-Rahman → Jabir bin 'Abdullah RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (4) — Book of the Beginning of Revelation
Chain: Yahya bin Bukair → Al-Laith → 'Uqail → Ibn Syihab (Az-Zuhri) → Abu Salamah bin 'Abd al-Rahman → Jabir bin 'Abdullah RA
✔ Sahih
☾ Hadis 2 — Bersuci Separuh daripada Iman
☾ Hadith 2 — Purity Is Half of Faith
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلاَلٍ، حَدَّثَنَا أَبَانٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، أَنَّ زَيْدًا، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلاَّمٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَرِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ . وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ - أَوْ تَمْلأُ - مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا " .
Daripada Abu Malik al-Asy‘ari رضي الله عنه, beliau berkata bahawa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Bersuci itu adalah separuh daripada iman. ‘Alhamdulillah’ memenuhi timbangan (mizan). ‘Subhanallah’ dan ‘Alhamdulillah’ memenuhi — atau memenuhi apa yang ada — antara langit dan bumi. Solat itu adalah cahaya. Sedekah itu adalah bukti. Sabar itu adalah sinaran. Dan al-Quran adalah hujah bagimu atau terhadapmu. Setiap manusia keluar pada waktu pagi, maka ada yang menjual dirinya — sama ada membebaskannya atau membinasakannya.”
Abu Malik al-Ash'ari reported that the Messenger of Allah ﷺ said: "Purity is half of faith. 'Alhamdulillah' fills the scale; 'Subhanallah' and 'Alhamdulillah' fill what is between the heavens and the earth. Prayer is light, charity is proof, patience is illumination, and the Qur'an is a proof for you or against you. Every person goes out in the morning and sells himself — either freeing himself or destroying himself."
Riwayat: Sahih Muslim (223) — Kitab at-Taharah
Sanad: Ishaq bin Mansur → Habban bin Hilal → Aban → Yahya (bin Abi Kathir) → Zaid (bin Sallam) → Abu Sallam → Abu Malik al-Asy'ari RA
Narrated in: Sahih Muslim (223) — Book of Purification
Chain: Ishaq bin Mansur → Habban bin Hilal → Aban → Yahya (bin Abi Kathir) → Zaid (bin Sallam) → Abu Sallam → Abu Malik al-Asy'ari RA
✔ Sahih
☾ Hadis 3 — Panas Terik daripada Hembusan Neraka
☾ Hadith 3 — Intense Heat Is from the Breath of Hell
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ حَفِظْنَاهُ مِنَ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ " إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ، فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ ". " وَاشْتَكَتِ النَّارُ إِلَى رَبِّهَا فَقَالَتْ يَا رَبِّ أَكَلَ بَعْضِي بَعْضًا. فَأَذِنَ لَهَا بِنَفَسَيْنِ نَفَسٍ فِي الشِّتَاءِ، وَنَفَسٍ فِي الصَّيْفِ، فَهُوَ أَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الْحَرِّ، وَأَشَدُّ مَا تَجِدُونَ مِنَ الزَّمْهَرِيرِ ".
Daripada Abu Hurairah رضي الله عنه bahawa Nabi ﷺ bersabda:
“Apabila cuaca sangat panas, maka lewatkanlah (sejukkanlah) solat (Zuhur), kerana sesungguhnya panas yang sangat itu adalah daripada hembusan neraka Jahannam.”
Dan Baginda bersabda:
“Neraka mengadu kepada Tuhannya, lalu berkata: ‘Wahai Tuhanku, sebahagianku memakan sebahagian yang lain.’ Maka Allah mengizinkannya dua hembusan:satu hembusan pada musim sejuk dan satu hembusan pada musim panas. Maka itulah panas yang paling kamu rasakan, dan itulah juga sejuk yang paling kamu rasakan (zamharir).”
Abu Hurairah reported that the Prophet ﷺ said: "When the heat is intense, delay the (Zuhr) prayer until it becomes cooler, for the intensity of heat is from the breath of Hell. The Fire complained to its Lord, saying: 'O Lord, parts of me consume other parts.' So He allowed it two breaths — one in winter and one in summer — the most intense heat and the most intense cold you experience."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (536–537) — Kitab Mawaqit as-Salah
Sanad: Ali bin 'Abdullah → Sufyan (bin 'Uyainah) → Az-Zuhri → Sa'id bin al-Musayyab → Abu Hurairah RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (536–537) — Book of Prayer Times
Chain: Ali bin 'Abdullah → Sufyan (bin 'Uyainah) → Az-Zuhri → Sa'id bin al-Musayyab → Abu Hurairah RA
✔ Sahih
☾ Hadis 4 — Tiada Kurniaan Lebih Baik daripada Sabar
☾ Hadith 4 — No Gift Is Better Than Patience
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ نَاسًا مِنَ الأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَأَعْطَاهُمْ، ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ، حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ " مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ، وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ، وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ ".
Daripada Abu Sa‘id al-Khudri رضي الله عنه:
Beberapa orang daripada golongan Ansar meminta sesuatu daripada Rasulullah ﷺ, lalu Baginda memberi kepada mereka. Kemudian mereka meminta lagi, lalu Baginda memberi lagi, sehingga habis apa yang ada pada Baginda. Maka Baginda bersabda:
“Apa sahaja kebaikan yang ada padaku, aku tidak akan menyimpannya daripada kamu. Sesiapa yang menjaga kehormatan dirinya (tidak meminta-minta), Allah akan memeliharanya. Sesiapa yang berusaha untuk merasa cukup (tidak bergantung kepada manusia), Allah akan mencukupkannya. Sesiapa yang berusaha bersabar, Allah akan memberinya kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberikan suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.”
Abu Sa'id al-Khudri reported that some of the Ansar asked the Messenger of Allah ﷺ and he gave them until what he had ran out. He said: "Whatever good I have, I will not withhold from you. Whoever seeks chastity, Allah keeps him chaste; whoever seeks self-sufficiency, Allah makes him self-sufficient; whoever strives to be patient, Allah grants him patience. And no one is given a gift better and more expansive than patience."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (1469) — Kitab az-Zakah
Sanad: 'Abdullah bin Yusuf → Malik → Ibn Syihab → 'Ata' bin Yazid al-Laithi → Abu Sa'id al-Khudri RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (1469) — Book of Zakah
Chain: 'Abdullah bin Yusuf → Malik → Ibn Syihab → 'Ata' bin Yazid al-Laithi → Abu Sa'id al-Khudri RA
✔ Sahih
☾ Hadis 5 — Sampaikanlah Daripadaku Walaupun Satu Ayat
☾ Hadith 5 — Convey from Me Even One Verse
حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ، أَخْبَرَنَا الأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ أَبِي كَبْشَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ " بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً، وَحَدِّثُوا عَنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلاَ حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَىَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ ".
Daripada ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما bahawa Nabi ﷺ bersabda:
“Sampaikanlah daripadaku walaupun satu ayat. Dan ceritakanlah daripada Bani Israil, dan tidak mengapa (tiada dosa). Dan sesiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah dia menempah tempat duduknya di dalam neraka.”
'Abdullah ibn 'Amr reported that the Prophet ﷺ said: "Convey from me, even if it is one verse. Narrate from the Children of Israel, and there is no harm. And whoever lies about me deliberately, let him take his seat in the Fire."
Riwayat: Sahih al-Bukhari (3461) — Kitab Ahadith al-Anbiya'
Sanad: Abu 'Asim ad-Dahhak bin Makhlad → Al-Awza'i → Hassan bin 'Atiyyah → Abu Kabsyah → 'Abdullah bin 'Amr RA
Narrated in: Sahih al-Bukhari (3461) — Book of the Prophets
Chain: Abu 'Asim ad-Dahhak bin Makhlad → Al-Awza'i → Hassan bin 'Atiyyah → Abu Kabsyah → 'Abdullah bin 'Amr RA
✔ Sahih
Bahagian 6
Section 6
Panduan Amali, Doa & Penutup
Practical Guidance, Supplication & Conclusion
Berdasarkan tema-tema utama Surah Al-Muddaththir, berikut beberapa panduan amali yang boleh diterapkan dalam kehidupan seharian:
Based on the main themes of Surah Al-Muddaththir, here is practical guidance for daily life:
✦ Panduan Amali- Sentiasa Bersedia Berdakwah — Sebagaimana perintah "qum fa-anzir" (bangunlah dan berilah peringatan), setiap Muslim digalakkan menyampaikan kebaikan walaupun secara kecil-kecilan, sesuai kemampuan masing-masing.
- Jaga Kebersihan Zahir dan Batin — Amalkan kebersihan diri dan pakaian sebagai sebahagian daripada ibadah, selari dengan perintah "wa thiyabaka fatahhir", serta bersihkan hati daripada sifat mazmumah.
- Ikhlas dalam Beramal — Elakkan sifat "tamnun tastakthir" iaitu memberi sambil mengharapkan balasan yang lebih besar; jadikan setiap sumbangan dan kebaikan semata-mata kerana Allah.
- Amalkan Kesabaran — Hayati pesanan "wa lirabbika fasbir" — bersabar dalam menghadapi ujian dakwah, kehidupan dan ibadah, kerana kesabaran adalah kurniaan yang amat besar.
- Jangan Leka dengan Dunia — Ambil iktibar daripada kisah penolak kebenaran yang leka dengan harta dan kedudukan; sentiasa ingat bahawa nikmat dunia adalah ujian, bukan matlamat akhir.
- Pelihara Solat dan Bantu Golongan Miskin — Jadikan solat dan bantuan kepada fakir miskin sebagai amalan utama, kerana kedua-duanya disebut sebagai sebab kebinasaan golongan yang lalai dalam Surah ini.
✦ Practical Guidance- Always be ready to call to good — as in "qum fa-anzir", share goodness even in small ways, according to your ability.
- Keep outer and inner purity — keep yourself and your clothes clean as part of worship ("wa thiyabaka fatahhir"), and cleanse the heart of blameworthy traits.
- Be sincere in deeds — avoid giving in expectation of a greater return ("tamnun tastakthir"); do every good purely for Allah.
- Practise patience — "wa lirabbika fasbir": be patient in da'wah, life and worship, for patience is a very great gift.
- Do not be deluded by the world — learn from the one who rejected the truth while enjoying wealth and status; worldly blessings are a test, not the goal.
- Guard the prayer and help the poor — both are named in this surah among the causes of the ruin of the heedless.
Penutup
Conclusion
كَلَّا وَٱلۡقَمَرِ ٣٢
"Sebenarnya! Demi bulan," — Al-Muddaththir 74:32
"No! By the moon" — Al-Muddaththir 74:32
وَٱلَّيۡلِ إِذۡ أَدۡبَرَ ٣٣
"Dan malam apabila ia balik melenyapkan diri," — Al-Muddaththir 74:33
"And [by] the night when it departs" — Al-Muddaththir 74:33
وَٱلصُّبۡحِ إِذَآ أَسۡفَرَ ٣٤
"Dan waktu subuh apabila ia terang-benderang," — Al-Muddaththir 74:34
"And [by] the morning when it brightens," — Al-Muddaththir 74:34
Demikianlah huraian ringkas Surah Al-Muddaththir yang dapat dikongsikan dalam eBook ini. Semoga ia memberi kefahaman yang lebih mendalam tentang detik bersejarah permulaan dakwah Rasulullah ﷺ, serta menjadi peringatan buat kita semua untuk sentiasa bangun menyahut seruan kebenaran, menjaga kebersihan diri, dan bersabar dalam perjuangan menegakkan Islam.
This concludes the brief explanation of Surah Al-Muddaththir. May it give a deeper understanding of the historic beginning of the Prophet's mission and move us to rise, purify ourselves and call to good with patience.
اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُنْذِرِينَ الصَّابِرِينَ، وَطَهِّرْ قُلُوبَنَا وَأَعْمَالَنَا، وَاجْعَلْ هَذَا الْعَمَلَ خَالِصًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ
"Ya Allah, jadikanlah kami dalam kalangan pemberi peringatan yang sabar, sucikanlah hati dan amalan kami, dan jadikanlah amalan ini ikhlas kerana-Mu."
"O Allah, make us among those who warn with patience, purify our hearts and deeds, and make this work sincerely for Your noble Face."
وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ